Pasar keuangan global kembali mendapat tekanan dari pergerakan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10 tahun melonjak hingga sekitar 5,27 persen, level yang terakhir terlihat pada 2007. Kenaikan tersebut menjadi bagian dari aksi jual besar-besaran di pasar obligasi AS sepanjang September.
Kenaikan yield tidak hanya terjadi pada tenor panjang. Yield Treasury dua tahun juga bergerak mendekati 5 persen, sementara yield obligasi 30 tahun sempat mencapai sekitar 5,55 persen, level yang belum terlihat sejak 2004.
Pergerakan tersebut menjadi perhatian karena Treasury AS merupakan salah satu acuan utama dalam menentukan biaya pendanaan di pasar global.
Mengapa Yield Treasury Naik?
Salah satu faktor utama yang kembali diperhatikan investor adalah inflasi.
Harga minyak yang meningkat akibat ketegangan geopolitik membuat pasar khawatir tekanan inflasi belum akan segera mereda. Harga Brent bahkan sempat berada di atas US$100 per barel. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, sehingga berpotensi memperpanjang tekanan inflasi.
Situasi tersebut membuat ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve ikut berubah.
Pasar mulai memperhitungkan kemungkinan suku bunga AS tetap tinggi lebih lama, bahkan terdapat ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga lanjutan hingga 2027. Ketika investor memperkirakan suku bunga akan bertahan lebih tinggi, obligasi dengan tenor panjang biasanya membutuhkan yield yang lebih tinggi agar tetap menarik.
Namun persoalannya tidak hanya berasal dari kebijakan moneter.
Investor juga semakin memperhatikan kondisi fiskal Amerika Serikat dan besarnya kebutuhan pemerintah untuk menerbitkan utang. Pasokan Treasury yang besar dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga obligasi dan pada akhirnya mendorong yield lebih tinggi.
Yield Naik, Harga Obligasi Turun
Ada hubungan penting yang perlu dipahami.
Harga obligasi dan yield bergerak berlawanan arah.
Ketika investor menjual Treasury, harga obligasi turun. Karena pembayaran kupon obligasi relatif tetap, penurunan harga tersebut membuat tingkat imbal hasil efektif bagi pembeli baru menjadi lebih tinggi.
Itulah sebabnya lonjakan yield saat ini sebenarnya merupakan cerminan dari tekanan jual yang terjadi di pasar obligasi.
September bahkan menjadi salah satu periode terburuk bagi pasar Treasury dalam beberapa tahun terakhir. Reuters mencatat bahwa benchmark 10-year Treasury mengalami kenaikan yield yang membawa pasar menuju aksi jual bulanan terburuk dalam dua tahun.
Dampaknya Mulai Terlihat di Pasar Saham
Kenaikan yield Treasury tidak berhenti di pasar obligasi.
Treasury AS sering digunakan sebagai salah satu acuan risk-free rate dalam valuasi aset. Ketika yield Treasury naik, biaya modal dan tingkat diskonto yang digunakan investor juga dapat meningkat.
Akibatnya, aset yang valuasinya sangat bergantung pada ekspektasi keuntungan di masa depan dapat menghadapi tekanan.
Pada perdagangan 28 September, S&P 500 turun sekitar 0,8 persen, Dow Jones turun 0,7 persen, sementara Nasdaq turun sekitar 0,9 persen ketika yield Treasury 10 tahun kembali menembus level 5,2 persen.
Tekanan ini juga dapat merambat ke pasar kredit. Biaya penerbitan utang perusahaan ikut meningkat ketika benchmark Treasury bergerak lebih tinggi.
Bagaimana dengan Emas?
Emas juga merasakan dampaknya.
Secara historis, kenaikan yield riil dan penguatan dolar dapat meningkatkan opportunity cost memegang emas karena emas tidak memberikan kupon atau bunga.
Pada 28 September, harga emas turun lebih dari 3 persen dan bergerak menuju level terendah dalam sekitar tujuh minggu. Kenaikan yield Treasury dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi menjadi salah satu faktor yang menekan logam mulia tersebut.
Namun hubungan tersebut tidak selalu berjalan satu arah. Emas juga dipengaruhi oleh inflasi, permintaan bank sentral, kondisi geopolitik, serta pergerakan dolar AS. Karena itu, kenaikan yield tidak otomatis berarti harga emas harus selalu turun.
Pasar Kini Menunggu Data Ekonomi Berikutnya
Pergerakan Treasury selanjutnya akan sangat bergantung pada data ekonomi Amerika Serikat.
Investor akan memperhatikan indikator inflasi dan pasar tenaga kerja untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan Federal Reserve. Data-data tersebut dapat menentukan apakah lonjakan yield saat ini hanya merupakan penyesuaian sementara atau bagian dari periode suku bunga tinggi yang lebih panjang.
Untuk sementara, pasar sedang menghadapi kombinasi yang cukup rumit: harga energi tinggi, kekhawatiran inflasi, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, dan kebutuhan pembiayaan pemerintah AS yang besar.
Bagi investor global, pergerakan Treasury menjadi salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan karena perubahan yield dapat merambat dari pasar obligasi ke saham, mata uang, komoditas, hingga biaya pinjaman.
Dengan yield Treasury 10 tahun kembali berada di atas 5 persen, pertanyaan yang kini muncul bukan lagi sekadar seberapa tinggi yield dapat bergerak, tetapi berapa lama pasar harus beradaptasi dengan era suku bunga yang lebih tinggi.
Catatan: artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

