Pasar keuangan Amerika Serikat memasuki akhir September dengan perhatian tertuju pada satu data ekonomi: Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index.

Data inflasi yang menjadi salah satu indikator utama Federal Reserve tersebut akan dirilis pada Rabu, 30 September pukul 08.30 waktu AS atau sekitar 19.30 WIB. Biro Analisis Ekonomi AS (BEA) menjadwalkan rilis laporan Personal Income and Outlays untuk Agustus pada waktu tersebut.

Data ini datang ketika pasar sedang berada dalam kondisi yang cukup sensitif.

Yield Treasury AS bertenor 10 tahun berada di sekitar 5,29 persen, sementara yield 30 tahun sempat mencapai 5,62 persen, level tertinggi sejak 2007 dan 2002. Di saat yang sama, investor masih memperdebatkan seberapa jauh Federal Reserve perlu menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.

Mengapa PCE Begitu Penting?

PCE bukan sekadar angka inflasi lainnya.

Indeks ini mengukur perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat Amerika. Berbeda dengan CPI, PCE memiliki cakupan pengeluaran yang lebih luas dan memperhitungkan perubahan pola konsumsi masyarakat.

Karena karakteristik tersebut, PCE menjadi salah satu ukuran inflasi yang sangat diperhatikan Federal Reserve.

Data terakhir menunjukkan bahwa PCE headline pada Juli naik 3,7 persen secara tahunan, sedangkan core PCE—yang tidak memasukkan makanan dan energi—naik 3,3 persen. Keduanya masih berada di atas target inflasi Federal Reserve sebesar 2 persen.

Artinya, angka Agustus akan memberikan gambaran apakah tekanan inflasi mulai mereda atau justru kembali menguat.

Pasar Sedang Menghadapi Masalah yang Tidak Sederhana

Yang membuat rilis kali ini semakin penting adalah kondisi ekonomi AS yang mulai menunjukkan sinyal yang berlawanan.

Di satu sisi, inflasi masih tinggi dan harga energi meningkat.

Di sisi lain, beberapa indikator mulai menunjukkan perlambatan.

Data terbaru menunjukkan lowongan pekerjaan AS turun 256.000 menjadi 7,079 juta pada Agustus. Pada saat yang sama, indeks kepercayaan konsumen Conference Board turun menjadi 81,9, level terendah dalam sekitar 12,5 tahun.

Dengan kata lain, Federal Reserve menghadapi dua masalah sekaligus:

Inflasi belum kembali ke target.

Sementara itu,

kondisi ekonomi mulai menunjukkan tanda-tanda kehilangan momentum.

Inilah yang membuat data PCE menjadi penting.

Apa yang Akan Dicari Pasar?

Investor kemungkinan tidak hanya melihat apakah angka PCE naik atau turun.

Perhatian terbesar akan berada pada core PCE dan perubahan bulan ke bulan.

Jika inflasi inti kembali menunjukkan tekanan yang kuat, pasar dapat melihat semakin kecil ruang bagi Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Sebaliknya, jika inflasi menunjukkan perlambatan yang lebih besar dari perkiraan, pasar dapat kembali memperhitungkan kemungkinan bahwa tekanan harga mulai mereda.

Namun satu angka tidak akan menentukan seluruh arah kebijakan Fed.

Bank sentral juga harus mempertimbangkan pasar tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, harga energi, serta kondisi keuangan secara keseluruhan.

Treasury Sudah Memberikan Sinyal

Pasar obligasi sudah bergerak sebelum data PCE dirilis.

Sepanjang September, yield Treasury 10 tahun naik hampir 50 basis poin, sementara pasar obligasi global mengalami tekanan besar. Kenaikan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran terhadap inflasi, meningkatnya pasokan utang pemerintah, dan kenaikan harga energi.

Kenaikan yield juga membuat dolar AS menguat. Reuters mencatat dolar memperoleh kenaikan sekitar 2 persen sepanjang September ketika investor meningkatkan ekspektasi terhadap suku bunga yang lebih tinggi.

Situasi tersebut membuat rilis PCE menjadi semakin sensitif.

Pasar tidak hanya bertanya “berapa inflasinya?”

Pasar juga ingin mengetahui:

“Apakah inflasi cukup tinggi untuk membuat suku bunga AS tetap tinggi lebih lama?”

Jika Inflasi Tetap Tinggi

Skenario pertama adalah PCE menunjukkan tekanan harga yang masih kuat.

Dalam kondisi tersebut, pasar dapat kembali meningkatkan perhatian terhadap kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Dampaknya dapat merambat ke berbagai aset.

Yield Treasury dapat tetap tinggi, dolar berpotensi mendapat dukungan, sementara aset yang sensitif terhadap tingkat suku bunga dapat menghadapi tekanan.

Kenaikan yield juga berarti biaya pendanaan yang lebih mahal bagi perusahaan, pemerintah, dan konsumen.

Jika Inflasi Mulai Mendingin

Skenario kedua adalah PCE menunjukkan perlambatan.

Jika tekanan inflasi ternyata mulai mereda, pasar dapat melihat adanya ruang yang lebih besar bagi Federal Reserve untuk menahan atau kemudian melonggarkan kebijakan moneternya.

Yield Treasury berpotensi mendapat tekanan turun dan kondisi finansial dapat menjadi lebih longgar.

Namun pasar tetap harus melihat data lain.

Satu laporan inflasi yang lebih rendah belum cukup untuk membuktikan bahwa tren inflasi telah benar-benar berubah.

Bukan Hanya Soal The Fed

Dampak PCE juga tidak berhenti di Amerika Serikat.

Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS dapat memengaruhi arus modal global, nilai tukar negara berkembang, pasar obligasi, saham, dan komoditas.

Bagi negara seperti Indonesia, perubahan yield Treasury dan dolar AS juga penting karena keduanya dapat memengaruhi tekanan terhadap rupiah serta kondisi pembiayaan global.

Itulah sebabnya sebuah data inflasi Amerika dapat menjadi perhatian investor di berbagai negara.

Malam Ini Pasar Mendapat Jawabannya

Setelah sepanjang September pasar obligasi mengalami tekanan besar, rilis PCE Agustus datang pada momen yang sangat sensitif.

Data tersebut tidak akan sendirian menentukan arah kebijakan Federal Reserve. Namun angka yang keluar malam ini akan menjadi salah satu bagian penting dari puzzle yang sedang digunakan pasar untuk membaca arah suku bunga AS.

Dan dengan yield Treasury 10 tahun yang sudah berada di sekitar 5 persen, ruang untuk kejutan pasar menjadi semakin besar.

Data PCE akan menunjukkan apakah tekanan inflasi mulai mereda—atau justru memberikan alasan baru bagi pasar untuk bersiap menghadapi suku bunga yang lebih tinggi lebih lama.