Koinons — Sebuah repository di GitHub bernama i-have-adhd menarik perhatian komunitas developer. Repository buatan pengguna GitHub dengan nama ayghri tersebut kini telah mengumpulkan lebih dari 30,5 ribu star dan sekitar 1,9 ribu fork.
Namanya memang terdengar seperti proyek yang berkaitan dengan kesehatan. Namun, fungsi repository ini berbeda.
i-have-adhd merupakan sebuah skill untuk coding assistant yang dirancang agar AI memberikan jawaban secara lebih langsung, terstruktur, dan mudah ditindaklanjuti.
Repository tersebut secara khusus ditujukan untuk mengatasi salah satu kebiasaan yang sering muncul pada coding agent: memberikan penjelasan panjang sebelum sampai pada tindakan yang sebenarnya perlu dilakukan.
Dari "Great question!" menjadi langsung ke perintah
Pembuat i-have-adhd memberikan contoh perbedaan respons coding agent sebelum dan sesudah skill tersebut diterapkan.
Dalam contoh pertama, AI membuka jawaban dengan kalimat seperti "Great question!" kemudian menjelaskan beberapa bagian dari alur autentikasi sebelum memberikan saran. Respons tersebut juga ditutup dengan kalimat tambahan seperti "Hope this helps!".
Setelah menggunakan skill i-have-adhd, respons yang sama dibuat jauh lebih langsung.
AI diminta menjalankan npm install jsonwebtoken@latest, kemudian mengedit src/auth.ts:42. Setelah itu, langkah pekerjaan diberikan dalam tiga poin dan ditutup dengan instruksi untuk mengirimkan baris error pertama apabila pengujian gagal.
Perubahannya bukan pada kemampuan model dalam menulis kode, melainkan pada cara model menyampaikan dan mengarahkan pekerjaan.
Ada 10 aturan untuk coding agent
Skill tersebut memiliki 10 aturan utama yang digunakan untuk membentuk respons AI.
Beberapa di antaranya adalah memulai jawaban dengan tindakan berikutnya, menggunakan nomor untuk pekerjaan yang memiliki beberapa langkah, menghindari pembahasan yang tidak relevan, serta selalu memberikan satu langkah konkret berikutnya.
Aturan lainnya meminta AI menyebutkan kondisi pekerjaan saat ini pada setiap giliran, memberikan estimasi waktu secara spesifik dalam hitungan menit, membuat hasil pekerjaan terlihat jelas, dan menjelaskan error secara objektif.
Ada pula pembatasan jumlah item dalam sebuah daftar maksimal lima poin.
Aturan terakhir justru cukup sederhana: tidak perlu pembukaan, rangkuman yang tidak dibutuhkan, atau kalimat penutup.
Bukan membuat jawaban lebih pendek
Pembuat repository menekankan bahwa tujuan skill ini bukan sekadar membuat respons menjadi singkat.
Dalam file SKILL.md, konsep yang digunakan adalah membuat output yang tidak hanya ringkas, tetapi juga lebih mudah diubah menjadi tindakan. Repository tersebut menjelaskan bahwa masalahnya bukan hanya panjangnya jawaban, tetapi jarak antara memahami instruksi dan benar-benar mengerjakannya.
Karena itu, aturan pertama justru meminta AI meletakkan tindakan yang harus dilakukan di bagian paling awal.
Jika pengguna membutuhkan sebuah command, path file, atau potongan kode, informasi tersebut harus muncul sebelum penjelasan tambahan.
Pendekatan ini membuat respons coding agent lebih menyerupai daftar instruksi kerja dibandingkan jawaban chatbot konvensional.
Mendukung sejumlah coding agent
i-have-adhd juga tidak dibuat hanya untuk satu platform.
Struktur repository menunjukkan adanya integrasi untuk beberapa lingkungan coding agent, termasuk Claude Code, Codex, Cursor, OpenCode, Gemini, dan sejumlah platform lainnya.
Repository tersebut juga menyediakan mekanisme instalasi melalui CLI. Pengguna dapat memasang skill dari repository GitHub dan kemudian menjalankannya sebagai bagian dari workflow coding agent.
Selain itu, pengguna dapat melakukan fork repository dan mengubah SKILL.md untuk menyesuaikan perilakunya sendiri.
Terinspirasi dari panduan ADHD
Nama repository tersebut memang sengaja menggunakan istilah ADHD.
Pembuatnya mengatakan aturan dalam skill tersebut secara longgar terinspirasi dari The Adult ADHD Tool Kit karya J. Russell Ramsay dan Anthony L. Rostain. Namun, aturan tersebut diadaptasi untuk bagaimana sebuah LLM seharusnya memberikan respons, bukan untuk mengatur aktivitas sehari-hari seseorang.
Repository juga secara eksplisit menyebut bahwa output yang dihasilkan ditujukan agar lebih ramah bagi orang dengan ADHD dan tidak membutuhkan diagnosis ADHD untuk digunakan.
Dengan kata lain, konsep yang dibawa repository ini lebih luas daripada persoalan ADHD. Developer tanpa ADHD pun dapat menggunakan pendekatan tersebut jika mereka menginginkan coding agent yang langsung menuju tindakan.
Popularitasnya menunjukkan masalah yang cukup umum
Menariknya, popularitas i-have-adhd justru datang dari masalah yang sangat sederhana.
Kemampuan coding agent berkembang semakin jauh. Model kini dapat membaca repository, menjalankan command, mengubah file, menjalankan pengujian, hingga mengerjakan tugas dalam beberapa tahap.
Namun, kemampuan tersebut tidak selalu berarti interaksi dengan AI menjadi lebih efisien.
Jawaban yang terlalu panjang dapat membuat informasi penting justru sulit ditemukan. Dalam konteks coding, developer sering kali hanya membutuhkan tiga hal: apa yang salah, apa yang harus dilakukan, dan bagaimana memastikan perbaikannya berhasil.
Pendekatan itulah yang coba dipaksakan oleh i-have-adhd.
Repository ini tidak membuat model menjadi lebih pintar. Ia hanya memberikan batasan mengenai bagaimana kecerdasan tersebut seharusnya disampaikan kepada developer.
Dan melihat jumlah star yang telah dikumpulkan, pendekatan sederhana tersebut tampaknya menemukan masalah yang cukup banyak dialami pengguna coding agent.

